Selasa, 21 Desember 2010

kegalauan dini hari : galau yang tak pernah mati

          Di saat matahari sembunyi dan aku sendiri, entah kenapa aku selalau memikirkan hal ini. Bukan sekali dua kali, tak hanya sekilas atau semalam, tapi sudah satu tahun kegalauan ini tak kunjung usai. Entah apa yang terjadi pada api dan air, tapi mereka memang mengintimidasi satu sama lain. Di lautan, api tak punya kuasa, disanalah air menjadi sang dewa, dimana air membawa kesejukan dan kedamaian. Disisi lain, saat api menyala, kadang tak kuasa air membendung baranya. Disisi yang lain, hutan yang dilalap api, kelak kan jadi surga bagi manusia, hewan dan tumbuhan setelah meneguk air yang diturunkan hujan di dinginnya malam. Api dan air, bukan tak bisa bersatu, tapi tak dapat berada dalam satu waktu dan tempat yang sama. Mereka saling melengkapi, membawa anugerah bagi bumi, yang menyambut mereka dengan kebahagiaan.

          Tapi bukan karena itu hatiku yang galau berpindah menjadi depresi. Ya, depresi. Bukannya aku tak mencari solusi dalam permasalahan ini, hanya, apa artinya pelangi tanpa hujan yang mendahuluinya. Apa artinya udara, tanpa manusia yang menghirupnya. Aku dan kamu bukan tak bisa saling melengkapi. Hanya, ada jarak diantara kita. Akupun bertanya-tanya, tidak relakah kamu menitikkan setetes saja air yang kamu bawa diatas sana? Tidakkah kamu menyadari, bahwa aku dan sinarku takkan mungkin datang tanpa kamu melapangkan jalanku. Tanpa kamu, aku hanya dapat terdiam di ujung terjauh langit, menanti dan terus menanti, kapan kau bukakan jalan untukku menampakkan tujuh warna yang kusembunyikan ini.

          Wahai hujan, aku sangat menyayangi sang matahari. Dialah yang membuatku memiliki warna-warna indah, dan mendukungku untuk bersinar di gelap dan terangnya langit. Dia memberiku semangat untuk menantimu, wahai hujan, walau kau seperti enggan meneteskan hujanmu dan membiarkanku hidup. Hai hujan, aku mengerti kau selalu dipuja manusia, dengan keindahanmu serta harummu, tapi tak bisakah kamu membuka sedikit saja celah hatimu. Mungkin aku terlalu lama menunggu, atau mungkin kau memang tidak berniat mengizinkanku mendekatimu. Aku menyayangimu, hai hujan, walaupun kau tak tahu. Hanya mengapa, kau tetap acuh padaku. Kamu ga ngerti, kalo cahayaku sudah hampir habis, habis menanti celah yang tak kunjung kau buka. Sekeras apapun aku berusaha, mungkin kamu akan tetep kaya gini ya?

          Wahai sang mentari, maafkan aku. Maaf karena aku hingga kini belum berhasil menunjukan warna yang kau berikan padaku. Wahai sang mentari, akankah kau tetap meninggalkan jejak warnamu untukku, atau kau akan kembali bersama sang hujan, membiarkan pelangi ini redup dan mati, dan digantikan pelangi yang lain Wahai hujan, akupun tak menyalahkanmu. Mungkin kita memang seperti api dar air, dekat, tapi jauh. Satu, tapi tak bersatu. Maafkan aku wahai hujam, karena ternyata pelangi ini bukan yang kau ingin temani untuk berbagi cahaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar